KETAKUTAN

Orang-orang di negeri itu sudah lama tak hirau pada kematian.

Mereka tak pernah mau mendengar jerit pohon tumbang,erang daunan yang membusuk perlahan,atau rintihan hewan yang dicincang.

Mereka bahkan terus melaksanakan hajat pembabatan,pembantaian,sebagai kewajaran.

Sebagai jalan utama mencapai kesenangan.

Pada sangkanya,diri mereka adalah anak-anak Dewa yang dimanja alam raya.

Tetapi rupanya,kematian bukanlah kuda tunggangan yang bisa dihela sekehendak sang tuan.

Kematian tetap kematian

Tak satu manusia pun mampu mengubah fitrahnya.

Ia adalah kekuatan besar yang niscaya,yang berkisar diluar manusia. Ia muskil dikendalikan. Ia leluasa menentukan pilihan.

Dan ketika pilihan itu berbalik mengarah ke diri manusia, adakah di antara mereka yang tak gemetar lututnya?.

Di manakah liang persembunyian yang luput dari ketajaman matanya?

Mungkin orang-orang lupa bertanya

Hingga datanglah hari itu.

Ketika malam baru saja merambahi desa-desa dan orang-orang mengatupkan daun jendela dan menyulut sumbu-sumbu lampu. Setiap jantung berdegup kencang. Setiap jiwa digerayang kecemasan.

Setiap mata nanar terbuka.

Setiap mulut kasak-kusuk bertanya: petaka apa,bencana apa?

Setiap kepala siaga menerjemahkan tanda-tanda.

Setiap hati percaya,Alam akan menunjukkan isyaratnya.

{ FPAH} kngbik

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai